Sabtu, 30 April 2011

Mengapa Doaku Tidak Dikabulkan ?

Oleh : Muhammad Sidiq
Dikesempatan kali ini tidaklah ada sesuatu yang lebih mulia untuk kita haturkan melainkan puji-pujian kehadirat Allah Yang Maha Besar atas segala apa yang telah Ia limpahkan kepada kita semua, baik berupa nikmat kesempatan, kesehatan jasmani dan rohani serta berbagai kenikmatan yang tidak bisa kita hitung bilangannya. Begitu juga satu hal yang tidak bisa kita lupakan, yaitu ucapan sholawat dan salam atas junjungan kita, teladan kita, Nabi Besar Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam, penutup dari para nabi dan rasul, yang telah membawa agama yang hanif ini kehadiran kita semua, sehingga kita dapat merasakan kenikmatan iman dan manisnya islam. Semoga sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada beliau, keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang selalu meniti jalannya hingga hari penghisapan kelak.
 
Saudaraku seislam, doa adalah ibadah yang unik. Ibadah yang dengannya seorang hamba dapat berhubungan dengan Sang Pencipta. Ibadah yang dengannya berbagai masalah teratasi. Berbagai penyakit dapat disembuhkan. Akan tetapi adakah yang menyadari bahwa ibadah yang semua dari kita dapat melakukannya, akan tetapi tidak semua dari kita akan menuai hasilnya secara langsung. Ada yang berdoa, akan tetapi belum juga ada hasil dari doa itu. “Mengapa doaku belum juga dikabulkan?” Mungkin pertanyaan seperti ini pernah bahkan sering terlintas dibenak kita. Sebuah pertanyaan yang terlintas ketika doa yang kita panjatkan belum juga terkabulkan. Atau kerap juga kita dengar dari lisan saudara kita akan keluhan ini. Oleh karena itu kita sebagai hamba yang butuh akan pertolangan Allah Ta'ala, sudah seharusnyalah mengetahui apa penyebab dari semua itu. Apakah penyebab ditangguhkannya doa yang dipanjatkan?! Pada pembahasan yang lalu, telah kita ketahui bersama akan keutamaan dan syarat- syarat terkabulkannya doa. Pada kesempatan kali ini kita akan kembali membahas apa yang menjadikan doa itu terhalang untuk dikabulkan?

Saudaraku seislam, banyak sebab yang menjadikan doa terhalang untuk dikabulkan, akan tetapi pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan membahas beberapa hal saja yang menyebabkan doa tersebut terhalang untuk dikabulkan. Diantaranya adalah :

1. Mengkonsumsi hal-hal yang haram, baik dari berpakain, makanan maupun minuman.
Dikesempatan yang lalu telah kita sebutkan sebuah cerita yang dikisahkan Nabi kita Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam tentang seorang pemuda yang terkumpul didalamnya faktor-faktor terkabulkannya doa. Akan tetapi karena apa yang ia konsumsi berasal dari hal haram, maka doa yang dipanjatkan tidak dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam bersabda yang di riwayatkan dari jalan Abu Hurairah :
Ada seseorang yang bepergian jauh, kusut rambutnya dan berdebu tubuhnya, ia pun mengangkat tangannya ke langit seraya berkata,”Ya Rabb!,Ya Rabb!” Sedangkan makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari sesuatu yang haram, bagaimana Allah Ta'ala mengabulkan doa orang tersebut ?!!.”

2. Tergesa-gesa dalam berdoa.
Sebuah ketergesaan dari seorang hamba yang akhirnya menyebabkannya meninggalkan ibadah yang mulia ini. Dalam hal ini آabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam telah memperingatkan ummatnya untuk tidak tergesa-gesa dalam berdoa. Beliau bersabda :

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل فيقول قد دعوت فلا أو فلم يستجب لي
Akan dikabulkan (doa) salah seorang dari kalian selama ia tidak tergesa-gesa dan mengatakan,”Aku telah berdoa, namun Allah juga tidak mengabulkan doaku.” HR. Bukhori Muslim.

Sebuah peringatan yang sangat jelas dari Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam kepada kita ummatnya akan kejelekan dari sebuah ketergesaan. Semoga dengan mengetahui hadist diatas menjadikan kita meninggalkan ketergesa-gesaan dalam berdoa.

3. Berbuat maksiat dan dosa, serta melanggar apa yang telah diharamkan dan meninggalkan apa yang telah diwajibkan.
Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam bersabda :
Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian harus memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau Allah akan menimpakan kepada kalian hukuman yang apabila kalian semua berdoa agar dihindarkan dari hukuman itu, maka tidak akan dikabulkan oleh-Nya” HR. Tirmidzi.

Saudaraku yang dimuliakan Allah, maksiat adalah kegelapan yang akan menutup hati kita. Kegelapan yang apabila dibiarkan terus menerus akan menyebabkan hati ini akan dikuasai oleh setan sehingga akan terhalang dari hidayah. Dalam hal ini Syaikhul islam Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan : “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya.”
Imam Mujahid rahimahullah juga mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa lagi, maka semua jemarinya perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi,maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”

Oleh karena itu, bagaimana sebuah doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sedangkan larangan-Nya selalu kita langgar dan perintah-Nya kita tinggalkan?! Hari-hari yang dilewati kita hiasi dengan maksiat tanpa memikirkan apa dampaknya bagi diri kita. Marilah bersama kita tingkatkan iman dengan memperbanyak istighfar dari dosa-dosa yang kita perbuat. Yang semoga dengannya, doa yang kita panjatkan akan di kabulkan oleh Allah Ta'ala. Amin.

4. Tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa.
Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam bersabda :
Janganlah sekali-kali kalian berkata (ketika berdoa),”Ya Allah, apabila Engkau berkenan maka ampunilah aku, apabila Engkau berkenan kasihilah aku, apabila Engkau berkenan berilah kepadaku rezeki. Akan tetapi bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena Allah Ta'ala berbuat menurut apa yang Ia kehendaki dan tidak ada yang memaksaNya.” HR. Bukhori

Saudaraku, ingatlah, bahwasannya sejauh mana engkau berusaha maka sejauh itulah yang akan kau dapatkan. Terus dan teruslah didalam kesungguhan, maka engkau akan menuai hasilnya nanti. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah sebuah keyakinan bahwa doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala . Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa salam bersabda :
Berdoalah kalian dengan keyakinan penuh akan terkabulnya doa itu, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa yang berasal dari hati yang lalai dan lengah. HR. Tirmidzi.
Dan akhirnya hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan.

Saudaraku seislam, apa yang telah kita bahas bersama di atas adalah kenikmatan yang patut kita syukuri. Mungkin ada diantara kita yang selama ini lalai akan hal diatas atau memang sama sekali kita tidak menyadari hal tersebut. Oleh karena itu tidak ada kata terlambat bagi kita semua untuk membenahi diri kita, ibadah dan kehidupan kita. Semoga apa yang kita bahas diatas menjadi suatu hal yang bermamfaat. Besar harapan ketika ilmu yang telah kita dapatkan, dapat juga didapatkan saudara kita seislam karena hal itu akan menjadi amal jariyah kita kelak apabila kita telah tiada. Dan semoga Allah menjadikan kita orang orang yang hidup diatas kecintaan karena-Nya dan menjadikan kita orang yang mendapatkan naungan di hari yang tiada naungan selain naungan-Nya kelak. Amin ya robbal ‘alamin.

Referensi: Min 'Ajaibid Du'a karya Khalid Bin Sulaiman Ar-Rob'i.

(Oleh Muhammad Sidiq alumni Pesantren Islam Al-Irsyad ke 19 tahun 2010 diedit oleh Ustadz Ujang Pramudhiarto, Lc SpdI)

Menuai Pahala di Ladang Kebaikan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [٢٢:٧٧]
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ [٢٢:٧٨]


“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan, niscaya kalian termasuk orang-orang yang beruntung. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, (ikutilah) agama orang tuamu Ibrohim, Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rosul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al Hajj: 77-78)
 
Kandungan Makna Ayat
Anjuran untuk berbuat kebaikan dan memerangi kejelekan.
 
Korelasi dengan Ayat sebelumnya
Setelah Allah menyebutkan luasnya ilmuNya terhadap keadaan para makhlukNya dan menjelaskan bahwa sesungguhnya tempat kembali segala urusan itu hanya kepada Allah -subhanahu wa ta’aala- agar mereka jera dari perbuatan jelek dan selalu bersunguh-sunguh dalam kebaikan, maka Allah menyebutkan beberapa anjuran untuk berbuat kebaikan dan memerangi kejelekan. 
 
Tafsir Ayat
Dalam ayat ini, Allah menyeru kaum muslimin dengan panggilan keimanan dengan tujuan agar mereka segera melaksanakan amalan-amalan kebaikan, kemudian Allah berfirman:
 
Ruku’lah kamu dan sujudlah kamu”,  yaitu dirikanlah sholat. Allah menyebutkan sholat di dalam ayat ini dengan istilah rukuk dan sujud dikarenakan keutamaan rukuk dan sujud itu sendiri. Kemudian Allah kembali menyeru kaum muslimin untuk mendirikan sholat dikarenakan sholat adalah ibadah paling mulia daripada ibadah-ibadah lainnya dan sholat adalah penyejuk mata (melahirkan ketenangan) sebagaimana perkataan Rasulullah -sholallahu alaihi wa sallam-: “Dan dijadikanlah penyejuk mataku adalah dengan sholat”.
 
Oleh karena itu, ayat ini diawali dengan perintah sholat, kemudian ditegaskan kembali perintah untuk mendirikan sholat di ayat selanjutnya, di mana Allah berfirman: “Dan dirikanlah sholat”.
 
Adapun firman Allah “Dan sembahlah Tuhanmu”, artinya tunduklah kalian dengan ketundukan yang sempurna, dengan ketundukan yang disertai oleh kecintaan kepada Tuan dan Raja kalian, yaitu yang mengatur segala urusan kalian.
 
Adapun firman Allah: “dan perbuatlah kebajikan”, artinya, dan perbanyaklah dalam berbuat kebaikan, baik kebaikan untuk umum maupun khusus, dan kerjakanlah apa –apa yang beermanfaat buat kalian dan tanah air kalian.
 
Kemudian firman Allah “niscaya kalian termasuk orang-orang yang beruntung” maksudnya, semoga kalian menang dan sukses. Ayat ini adalah tempat sujud tilawah, karena Allah memerintahkan untuk sujud dalam ayat ini. Ini adalah pendapat madzhab Ahmad, Syafi'i dan sebagian para ahli ilmu. Pendapat ini menyelisihi pendapat Abu Hanifah, beliau mengatakan: “Yang dimaksud dengan sujud dalam ayat ini adalah sujud dalam sholat bukan sujud tilawah, karena sujud dalam ayat ini disebutkan bersamaan dengan rukuk”.
 
Kemudian firmanNya: “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya”. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan dengan sesuatu yang menjadi puncak dari agama islam, jadi maksud ayat ini adalah, “Curahkanlah segala kemampuan untuk menjunjung tinggi kalimat Allah serta menghinakan musuh-musuhNya, dan janganlah takut dari celaan orang yang mencela selama kalian di jalan Allah.
 
Kemudian firman Allah: “Dia telah memilih kalian dan Dia sekali–kali tidak menjadikan suatu kesempitan bagi kalian dalam agama ini”, artinya, Allah telah memilih dan memuliakan kalian dengan menjadikan kalian sebagai para pengemban agama yang lurus ini dan Allah tidak akan memberikan kesulitan maupun kesempitan bagi kalian dalam agama ini, bahkan Allah membuang kesulitan dan beban berat yang telah Allah berikan kepada para generasi pertama. Allah menginginkan bagi kalian kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan. Adapun orang yang mencuri, berzina, atau membunuh, maka sungguh pada hakikatnya mereka telah mendatangkan kesulitan bagi dirinya sendiri. Kemudian agama islam memberikan hukuman setimpal kepada mereka, demi keselamatan dan keamanan kaum muslimin lainnya.
 
Dan firman Allah “Agama bapak kalian Ibrahim”, maksudnya, ikutilah dan berpegangteguhlah dengan agama bapak kalian Ibrahim. Kemudian Allah memberi nama kalian dengan islam dari sebelum Al Qur'an diturunkan hingga setelahnya.
 
Firman Allah : “Supaya Rosul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu menjadi saksi atas segenap manusia”  yaitu, Rasulullah -shalallahi 'alaihi wa sallam- menjadi saksi pada hari kiamat, bahwa beliau telah menyampaikan risalah kepada umatnya, dan umat pun menjadi saksi bahwa Rasulullah telah menyampaikan risalah kepada kaumnya. Hal itu bisa diketahui melalui apa yang Allah ceritakan dalam Al qur’an dan Rasulullah sampaikan dalam sunnahnya.
 
Kemudian firman Allah “maka dirikanlah shalat”, artinya, jika Allah telah memberikan kekhususan kepada kalian dengan kemulian menjadi saksi, maka dekatkanlah diri kalian kepada Allah dengan berbagai macam ketaatan, terlebih khusus mendirikan salat dan membayar zakat.          Allah mengkhususkan penyebutan shalat dan zakat, karena memang shalat dan zakat memiliki keutamaan yang lebih daripada selainnya, sebagaimana pula diulangnya penyebutan shalat dan zakat untuk kembali menegaskan pentingnya shalat.
 
Dan firman Allah: “Berpeganglah kamu pada tali Allah” artinya: Percayalah kalian kepada Allah dan jadikanlah Allah sebagai tempat bersandar, kemudian kembalikan segala perkara kepadaNya.
 
Hukum-Hukum :
  • Wajibnya mendirikan sholat
  • Wajibnya ikhlas kepada Allah semata dalam seluruh ibadah kepadaNya
  • Disunnahkan berupaya berbuat kebaikan umum bagi umat
  • Diwajibkannya berjihad
  • Kesulitan mendatangkan kemudahan
  • Keadaan darurat membolehkan hal–hal yang dilarang
  • Wajibnya membayar zakat
  • Wajibnya berserah diri hanya kepada Allah -subhanahu wa ta'aala- semata
  • Hukum asal dalam setiap muslim adalah baik


(Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Tafsir Ayatil Ahkam buah pena Abdul Qodir Syeibatul Hamd oleh Wajdi Khalid barbud alumni Pesantren Islam Al Irsyad angkatan 19 tahun 2010, diedit oleh Agus Abu Aufa, Lc.)